Jumat, 04 April 2014

DI BALIK DETAK JANTUNG PUTRIKU

Ini adalah secuil dari cerita panjang perjalanan saya, ... ya,... sebagian kecil saja,.. tapi ini sungguh sangat berarti bagi saya. Suatu kejadian yang tak pernah saya bayangkan bakal terjadi, mencemaskan, menakutkan, menguras fikiran tapi akhirnya justru menyadarkan kedurhakaan saya dan mengubah saya menjadi seorang yang insya Alloh lebih baik dari sebelumnya.

Singkat cerita, sejak kecil saya kurang suka atau bahkan membenci bapak saya, baik itu karena hasutan nenek saya sendiri, celotehan tetangga atau karena emang saya lihat sendiri hal2 yang bagi saya waktu itu suatu kesalahan untuk bapak saya. Ini sangat lama terjadi, dari SD (pertengahan tahun 80'an) s/d 2012. Puncak kebencian saya pada akhir tahun 2000, saya kabur dari rumah, dan untuk ongkosnya saya jual kambing guru saya yang saya pelihara, saya sempat jadi gelandangan di Jln. Malioboro, saat duit hampir habis kebingungan, ngemis2 kerjaan ga' ada yang mau ngasih, mau pulang malu hingga akhirnya kabur ke Jambi ikut orang tuanya temen sekolah yg akhirnya jd bapak angkat saya. Pulang ke Jogja pertama kali tahun 2009 karena ditakut2ti mbak Umy kenalan yg sudah seperti kakak sendiri ; bahwa pasti akan menyesal jika ortu meninggal sementara saya belum sempat temuinya lagi. waktu itu saya pulang dan minta maaf, tapi sebenarnya maaf saya masih di bibir saja, karena sejujurnya saya masih merasa tdk suka dengan bapak saya.


28 Mei 2012 anak perempuan saya "Aviciena Al-Birru" terlahir. Persalinan normal, berat badan normal dan semuanya berjalan dengan lancar. Tetapi selanjutnya kami melihat ada perkembangan yang mencurigakan, berat badannya tidak tambah, bahkan malah menurun hingga saat usianya menginjak 1 bulan badannya terlihat sangat memprihatinkan, sangat kurus,... garis2 tulang iganya terlihat jelas seperti anak yang menderita gizi buruk. Salah satu dokter spesialis anak di Muara Bungo memberitahu kami bahwa putri kami bermasalah pada jantungnya dan menyarankan dibawa ke Jakarta tanpa mau menjelaskan masalahnya seperti apa. Saya mulai merasa cemas,... tapi saya coba tenangkan hati dengan berfikir bahwa bisa saja diagnosa dokter tersebut salah. Selanjutnya kami bawa anak kami periksa ke dokter spesialis anak lain di Rimbo Bujang, ternyata dokter itupun mengatakan hal yang sama, dia menjelaskan bahwa bayi dalam kandungan itu jantungnya terhubung ke paru2 oleh semacam pembuluh yang berfungsi mensuplay darah atau mungkin O2 ke Paru2. Ketika lahir,... meskinya pembuluh itu terputus, tapi pada anak saya itu tidak terjadi dan bahasa umumnya ini disebut bocor jantung atau bahasa kedokterannya PDA.

Ketakutan coba saya simpan rapat2 dan terus yakinkan istri bahwa saya akan perjuangkan mati2an kesembuhan anak kami. Yg terfikir adalah bagaimana mungkin mendapatkan uang puluhan bahkan ratusan juta untuk biaya operasi seperti informasi2 yg saya dapat dari dokter ataupun sumber2 dari media, sementara waktu itu saya hanya bekerja jadi tukang ngedesain gambar di sebuiah percetakan. Entah berapa minggu saya benar2 stres berat memikirkannya,..sementara anak kami semakin kurus dan memprihatinkan. Tak jarang saya menangis sendiri, seolah tidak lagi ada jalan lagi selamatkan anak kami. Udah puluhan yayasan, organisasi masyarakat dan program2 TV seperti Peduli Kasih, Jalinan Kasih termasuk Dompet Duafa' dll kami hubungi, tapi tidak ada satupun yang memberikan respon positif, salah satu crew TV swasta penanggungjawab program bantuan pengobatan orang tidak mampu yang saya hubungi bilang ;"maaf pak,.. kami tidak punya perwakilan di Jambi, apalagi biaya operasi jantungkan besar, sementara dana kami terbatas".

Pernah saat itu ada ibu2 memanggil saya ;"Ojek... ojek...!!" ketika saya melintas di depannya pake motor, tanpa pikir panjang saya anter ibu itu, setelah sampai, saya lihat ibu tersebut keheranan karena saya tidak mau dibayar. ya,.. saya tidak mau dibayar dengan uang, tapi saya minta dibayar dengan do'a, do'a untuk anak saya,... dan ibu itupun manggut2. Kegalauan saya makin memuncak,... saya coba temui anak2 panti asuhan, saya berfikir mungkin do'a mereka akan lebih diterima Alloh. Saya kumpulkan beberapa anak panti itu, saya ajak makan lalu saya curhat ke mereka dan minta mereka mendo'akan anak saya, pernah juga saya datangi penghafal Al-Qur'an, saya bersedekah Rp. 28.000,- karena emang punyanya segitu lalu lagi2 saya minta beliau mendo'akan anak saya.

Akhirnya ada sedikit jalan terang kami lihat, salah satu saudara dari istri saya menyarankan dan memberitahukan prosedur pengurusan Jamkesda. Meski harus melalui proses yang rumit dan berbelit, kami coba ikuti dan benar,.. kami disetujui bawa anak berobat ke RSUP M. Djamil Padang. Setelah diperiksa selama 4 hari, team dokter di RS tersebut menyarankan kami membawa anak kami ke Jakarta. Kecemasan yg sedikit terlupakan kembali muncul, ya,... karena Jamkesda yang kami peroleh hanya bisa digunakan sampai di Padang. Kami bawa lagi anak kami pulang di rumah mertua sambil mencari jalan keluar selanjutnya.
Saya sempat berfikir, kenapa Alloh "menimpakan" ini kepada kami, apakah ini cobaan, teguran ataukah laknat...?! Kenapa tidak mereka yg kaya aja yg ditimpa..?! Celotehan orang2 yg melihat anak saya membuat mental istri saya ngedrop,... "ya Alloh,.. kasihan.. kecil sekali,... " dll. Umi Nahara, yg sudah seperti saudara saya sendiri coba tenangkan kami meski kami anggap kalimatnya belum tepat diucapkan ; "Jika seandainya Alloh menghendaki memanggil anakmu, maka bersabarlah". Sebenarnya saya sempat tersinggung dengan ucapan itu, sy berfikir ;"seandainya Alloh memanggil anakku maka tidak akan ada yang bisa menentang-Nya, tapi seandainya diberikan pilihan saya atau anak saya yg tetap hidup, maka waktu itu saya memilih anak sayalah yg semestinya tetap hidup". Saya baru tahu beginilah perasaan seorang ayah kepada anaknya meski anaknya masih bayi dan bahkan wajahnya saja belum begitu jelas bentuknya, cinta yang sejati, tanpa pamrih sedikitpun, bahkan seandainya tidak diberikan pahalapun ga' masalah, yang terfikir hanya kondisi terbaik untuk anaknya. Saya termenung lama,... saya berfikir... "mungkin ini" pelajaran yang Alloh sampaikan ke saya melalui kejadian itu. Hati saya serasa terbuka,... bahwa selama ini saya telah membenci bapak saya yang sebenarnya sangat mencintai saya. Saya telphon bapak dan ibu' saya lalu minta maaf sambil menangis...

Lalu kami coba hubungi Rumah Sakit Jantung Harapan Kita dan beberapa orang yang kami anggap mengerti tentang masalah seperti ini, mereka menyarankan kami menemui "pemprov" Jambi agar mau memberikan jaminan berobat ke Jakarta. dan waktu itu mas Yanto, salah satu keluarga istri saya yg kebetulan jadi perawat dan punya banyak hubungan orang2 kesehatan bersedia bantu kami menyampaikan permohonan kami ke pemprov Jambi dan alhamdulillah diberikan jaminan sebanyak Rp. 30.000.000,- sayang,.. diperkirakan uang itu masih kurang, demi kesembuhan anak saya, saya buang jauh2 rasa malu,.. saya temui salah satu ustadz saya Taqi Marwah (ketua DPD PKS Bungo) bahwa saya ingin meminjam uang, beliau menghubungi pak Rudi Wijaya (anggota DPR dari PKS) dan saudara Santo hingga akhirnya saya diberikan uang sebanyak Rp. 7.500.000,- dan yang dianggap pinjaman hanya Rp. 6.000.000,- sisanya diberikan cuma2. 

Rp. 30.000.000,- + Rp. 7.500.000,- + sumbangan2 lain sebenarnya dirasa masih kurang, tapi sepertinya udah mentok usaha saya, sayapun memutuskan nekad berangkat ke Jakarta dengan berbekal jaminan dan uang pinjaman serta sumbangan2 itu, saya bertekad nanti di Jakarta akan berusaha temui pihak RS bagaimanapun caranya agar bersedia mengoperasi anak saya dengan uang dan jaminan yang kami bawa. Saat itu anak saya tepat berusia 3 bulan, sebenarnya meski urus surat keterangan dokter agar bisa bawa anak naik pesawat, tapi saya kira itu kelamaan, akhirnya saya bikin sendiri surat itu dan pihak maskapaipun Ok-OK saja,.. kami dianter mas Yanto ke RSCM,.. ternyata di Bandara Soeta salah satu anak buahnya John Key udah menunggu di sana jemput kami, rupanya dia kenal dekat dengan mas Yanto,.. "hmm... preman2 ini rupanya tidak seburuk beritanya" fikirku dalam hati.




Di RSCM anak kami diperiksa selama 4 hari dan keputusannya memang harus dilakukan operasi besar (PDA Ligasi), tapi tidak semudah itu, saya meski wara-wiri ngurus ke Askesnya agar disetujui dlm setiap pemeriksaan, dan beginilah gambar antriannya setiap hari dan setiap mau ada tindakan dokter yg akan dilakukan ;

Setelah itu kami ngekos di Bukit Duri sambil nunggu jadwal operasi, dan di minggu ke 3 di Jakarta kami baru ditelphon RSCM bahwa operasi akan segera dilaksanakan, itupun karena kami coba terus desak agar segera mandapatkan jadwal operasi hingga kadang mereka marah2 ke saya. Alhamdulillah, Jum'at 21 September 2013 akhirnya anak saya benar2 dioperasi ;



Ternyata seluruh biaya di RSCM hanya sekitar 23 juta Rupiah,.. walaupun biaya kost, transportasi dllnya lumayan besar, tapi alhamdulillah sisa uang kami masih cukup untuk ongkos ke Jogja, istri sayapun setuju sekalian mampir ke Jogja, sampai di kampung saya disambut hangat sama ortu dan masyarakat yg sengaja diundang bapak tuk syukuran buat kami. Hati saya benar2 lega,.. dan subhanalloh, ibuk saya yang sbelumnya sakit2an, semenjak itu langsung sehat dan bicaranyapun terlihat semangat sampai sekarang. Terimakasih ya Alloh yang telah membukakan hati saya, terimakasih bapak-ibu saya yang telah memaafkan saya dan semuanya yang telah mendo'akan kami serta membantu kami dalam bentuk apapun.


Alhamdulillah sekarang (usianya hampir 2 tahun) putri kami sudah benar2 sembuh, dia terlihat cantik (bagi kami), lincah, udah hafal namanya meski belum lengkap, nama Tuhannya, Nabinya, Agamanya, kitab sucinya dan nama ibu'nya, dia juga udah hampir bisa berhitung sampai 10. Mudah2an kelak anak kami akan jadi wanita shalihah, cerdas dan berguna bagi agama, keluarga dan masyarakat. Amin.